SOLO - Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo terus melahirkan alumni yang unggul dan berkarakter. Salah satunya, Enrico Ananda Budiono, Alumnus Fakultas Kedokteran (FK) UNS angkatan 2019.
Enrico, begitu sapaannya, memiliki capaian akademik luar biasa dengan 44 presentasi karya ilmiah di 28 konferensi. Ia juga terjun ke masyarakat dalam sejumlah misi pascabencana yang berdampak untuk tanah air. Saat ini Enrico tengah menjalani program internship sebagai dokter di RSUD Temanggung. Bagi Enrico, makna dokter memiliki filosofi mendalam.
Kata dokter berasal dari bahasa Latin docere yang berarti ‘mengajar’ atau ‘guru’. Sejak SMA, Enrico telah memiliki ketertarikan kuat untuk menjadi guru. Keinginannya kemudian terwujud dengan cara dan jalan yang tidak disangka. Panggilan datang dari FK UNS yang membentuknya sebagai seorang dokter.
Enrico berkegiatan dalam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa), riset, dan kompetisi ilmiah. Ia menyebut masa studinya sebagai perjalanan yang lengkap dan bermakna. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dan profesi dokter dalam waktu 6,5 tahun dengan torehan predikat cumlaude.
“Secara akademik saya Alhamdulillah lulus dengan pujian (cumlaude), baik dari sarjana hingga profesi. Saya juga mengisi 6,5 tahun pendidikan dengan banyak kegiatan nonakademis, dari organisasi, penelitian, prestasi,” ujar Enrico melalui siaran pers Humas UNS yang dikutip, Rabu (24/12/2025).
Selama masa preklinik atau proses pendidikan S-1 Kedokteran, Enrico mengambil peran dalam sejumlah hal, seperti menjabat Ketua Umum Asian Medical Students' Association (AMSA) FK UNS, Kepala Divisi Medis Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam (PMPA) Vagus FK UNS, dan memimpin Divisi Diklat MER-C FK UNS.
Dalam lingkup akademik, Enrico juga sempat menjadi Asisten Laboratorium Fisiologi FK UNS. Aktivitas-aktivitas ini tentu memperkaya kompetensi akademik dan soft skill.
Pengalaman organisasi Enrico berlanjut ketika koasisten dengan dipercaya sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Profesi Dokter (HMPPD) FK UNS dan Ketua Simposium FK UNS bertajuk Prophylaxis. Simposium ini sempat mengundang ketua umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sally Aman Nasution, Sp.P.D., K-KV, FINASIM, FACP.
Hal baru juga ia coba dengan mendalami dunia riset dan publikasi ilmiah. Usahanya membuahkan hasil manis dengan berhasil mempresentasikan 44 karya ilmiah di 28 konferensi nasional dan internasional. Enrico juga mempublikasikan 12 artikel, diantaranya 7 artikel terindeks Scopus, 3 prosiding terindeks Scopus, dan 2 publikasi terindeks SINTA. Prestasi lainnya adalah memenangkan 7 penghargaan kompetisi ilmiah di bidang kardiovaskular.
Dorongan sosial menjadikan perjalanan Enrico dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pengalaman itu Enrico peroleh dari sejumlah program sosial dan misi kemanusiaan. Ia juga menjadi pribadi yang ringan untuk berbagi ilmu kepada rekan sejawatnya.
Enrico pernah terlibat dalam sejumlah misi bantuan pasca bencana saat erupsi Semeru 2021, banjir Pekalongan 2021, dan gempa Cianjur 2022. Dalam upaya terjun langsung, Ia sadar bahwa perlunya berbagi kebaikan. Tidak semua persoalan dapat disembuhkan dengan obat. Mendengar juga menjadi bentuk pelayanan atas makna kehadiran dan empati.
“Jaga posko tengah malam, seseorang datang hanya untuk ingin didengarkan. Bukan obat yang dicari, bukan diagnosis yang diminta, melainkan telinga untuk mendengar cerita,” ungkapnya.
Sejumlah kegiatan sosial terakhir sempat diinisiasinya setelah menjalani Sumpah Dokter. Enrico mengadakan bakti sosial kesehatan gratis untuk sekitar 200 masyarakat di Puskesmas Juwangi, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali. Selain itu ia juga membuka donasi untuk Palang Merah Indonesia (PMI) Surakarta dan mengadakan Charity Class.
“Saya mengajarkan EKG kepada umum (pada charity class) dengan total 132 peserta. Donasi yang terkumpul kemudian saya sumbangkan kepada Yayasan Jantung Indonesia Pusat, yang diketuai oleh Annisa Pohan Yudhoyono. Sebuah rasa ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat berproses sejauh ini,” tambah Enrico.
Selama menjalani koasisten, Enrico juga menginisiasi program belajar bersama tentang EKG, yaitu pemeriksaan aktivitas jantung. Ia mendapatkan media dan kesempatan untuk menyalurkan kesukaannya dalam mengajar. Satu pepatah latin yang ia pegang adalah docendo discimus, yang artinya ‘kita belajar dengan mengajar’.
“Mungkin sudah sekitar total 400 peserta. Program rutinan ini diadakan satu sampai dua kali sebulan. Berlangsung ketika ada (koasisten) yang akan memasuki rotasi stase jantung. Gratis, sukarela, murni hanya ingin sharing dan meneruskan ilmu dari guru dan mentor yang dititipkan ke saya,” ungkapnya.
Minat Enrico pada kardiologi tumbuh sejak stase kardiovaskular, bulan kedelapannya menjalani koasisten. Ia mendapat banyak ilmu dan bimbingan dari para guru, salah satunya Dr. dr. Habibie Arifianto, Sp.J.P.(K), M.Kes., FIHA. Proses belajar dijalani dengan disiplin dan ketekunan tinggi untuk mencapai kelulusan stase.
“Saya diberikan ilmu yang luar biasa. Salah satu dari sekian banyak pesan, Beliau selalu berhasil menyadarkan saya bahwa belajar sepenting itu,” tutur Enrico.
Sejak itu ia kerap diajak berdiskusi dengan sejawat koasisten. Menurutnya, kardiologi dapat dijelaskan dengan logika untuk mempermudah pemahaman. Dari sinilah muncul gagasan membuka kelas sukarela untuk berbagi ilmu pemeriksaan EKG. Minat Enrico terhadap kardiologi semakin berkembang dengan mengikuti sejumlah seminar, perlombaan, belajar dari para guru, serta bertukar ilmu dengan sejawat.
Perjalanan sebagai periset muda juga Enrico mulai saat menjadi koasisten. Banyak agenda ilmiah dengan topik kardiologi yang diikuti. Ia menyadari bahwa riset dan publikasi ilmiah sangatlah penting. Bukan lagi sebagai nilai plus, melainkan perlu menjadi sebuah standard minimum.
“Saya harap dokter-dokter muda zaman sekarang juga bisa FOMO untuk terjun di bidang penelitian. Semakin berkembangnya era teknologi dan majunya peradaban, kita dituntut untuk semakin update,” harapnya.
Enrico menekankan pentingnya konsistensi dan visi hidup. Menurutnya, tujuan yang jelas akan menuntun langkah seseorang dengan benar. Dukungan sivitas FK UNS sangat berperan dalam perjalanannya. Ia menyampaikan apresiasi kepada dosen dan tenaga kependidikan.
Salah satu yang ia sebut adalah peran Soraya Noor Fadhila, pegawai Subbagian Akademik FK UNS. Enrico berharap dapat melanjutkan pendidikan profesi dokter spesialis jantung. Ia bercita-cita menjadi dokter sekaligus dosen. Nilai berbagi dan belajar terus menjadi prinsip hidupnya.
“Terus berjuanglah. Berjuang bukan semata-mata untuk diri kita sendiri, tapi berjuanglah untuk mereka yang tidak lelah memperjuangkan kita sampai detik ini. Ada keluarga dan sahabat yang ingin melihatmu tumbuh. Hidup ini tentang berlari bersama, bukan perlombaan melawan sesama. Pencapaian orang lain bukanlah kegagalan untukmu, hanya sebuah pengingat bahwa kamu juga bisa di titik itu,” pungkasnya.
.jpeg)
0 Komentar