SOLO - Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
KKL 2026 ini berfokus pada pendalaman kekayaan sejarah arsitektur vernakular sekaligus meninjau pesatnya perkembangan arsitektur modern di salah satu destinasi pariwisata super prioritas Indonesia.
Kegiatan ini didampingi oleh Dosen Arsitektur UMS, Ir. Yayi Arsandrie, S.T., M.T., yang turut serta mendampingi 15 mahasiswa semester VI dalam perjalanan yang dilaksanakan pada 4-8 Februari 2026.
Dalam upaya menggali akar arsitektur Manggarai, mahasiswa mengunjungi Kampung Adat Todo, Kerajaan Manggarai, Rumah Adat Mbaru Niang, dan Kampung Adat Melo. Destinasi-destinasi ini dipilih untuk memberikan pemahaman langsung mengenai arsitektur tradisional, termasuk adaptasi bangunan masyarakat lokal terhadap kontur perbukitan curam namun tetap mempertahankan nilai filosofis dan fungsional.
"Dalam kunjungan ke destinasi wisata unggulan Indonesia ini, mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga mengeksplorasi bangunan tradisional masyarakat setempat sekaligus melihat peluang pengembangan arsitektur modern yang selaras dengan potensi pariwisata sebagai penggerak utama ekonomi daerah," ungkap Yayi Arsandrie, Sabtu (14/2/2026).
KKL 2026 juga menyoroti transformasi Arsitektur modern di kawasan Labuan Bajo. Mahasiswa melakukan analisis mendalam pada beberapa titik strategis, yaitu pada perkembangan Waterfront City Labuan Bajo dengan penataan ruang publik dan konektivitas, Golo Mori Convention Center, Menjaga Bay Resort Komodo yang mengintegrasikan desain eksklusif dan pelestarian alam pesisir, serta Puncak Waringin sebagai landmark pusat kreatif.
Yayi menambahkan bahwa melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami keterkaitan antara budaya, alam, dan desain dalam konteks nyata pada perencanaan kawasan waterfront, desain resort, convention center, serta tantangan merancang pada lahan berkontur.
“Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperdalam pemahaman mahasiswa yang sebelumnya hanya diperoleh melalui teori di kampus, kini menjadi pengetahuan yang benar-benar dirasakan, disaksikan, dan dipahami secara langsung," tambahnya.
Senada tentang perjalanan mahasiswa di Labuan Bajo, Fernando Fachrurozi selaku Jurnalis KKL Labuan Bajo memberikan catatan reflektif mengenai pentingnya identitas dalam sebuah rancangan.
"Arsitektur modern tidak boleh menjadi asing bagi tanah tempatnya berpijak. Sebaliknya, arsitektur tradisional tidak boleh menjadi museum mati. Keduanya bertemu untuk menciptakan ruang yang fungsional secara global namun tetap memiliki identitas lokal yang kuat," tutur Fernando.
Kegiatan KKL ini, lanjutnya, diharapkan tidak hanya melahirkan laporan akademis, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis bagi calon arsitek muda UMS dalam merancang masa depan arsitektur Indonesia yang tetap menghargai warisan leluhur.

0 Komentar