Ticker

6/recent/ticker-posts

Implementasi Nilai-Nilai Tarbiyah Luqman Al-Hakim dalam Pendidikan Karakter di Era Modern

Dosen Ilmu Qur’an dan Tafsir sekaligus Mudir Ma’had Abu Bakar UMS, Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. Foto: Ist. 

SOLO - Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif. Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman. 

Dosen Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) sekaligus Mudir Ma’had Abu Bakar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A., mengulas sejarah kehidupan Luqman Al-Hakim dalam mentarbiyah atau mendidik anaknya. 

Hakimuddin mengawali dengan menjelaskan biografi seorang Luqman Al-Hakim. Para jumhur ulama berpendapat bahwa Luqman bukan seorang nabi. Dia adalah sosok manusia biasa yang memiliki keistimewaan di sisi Allah SWT. Keistimewaan terletak pada cara tarbiyahnya terhadap anaknya. 

“Luqman Al-Hakim merupakan seorang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada zaman itu, tapi dia memiliki skill mendidik yang membuatnya dimuliakan oleh Allah SWT,” terangnya, Selasa (3/3/2026).  

Menurut Hakimuddin, julukan Al-Hakim yang disandarkan pada Luqman merupakan buah lisannya yang selalu melontarkan kata-kata bijaksana, tanpa pernah menyakiti hati siapa pun. 

Pada surat Al-Luqman ayat 13 dijelaskan bahwa tauhid merupakan pendidikan awal yang diberikan Luqman kepada anaknya. Menurut Hakimuddin, sebagai pendidikan Islam, tauhid merupakan ilmu fundamental atas ilmu-ilmu yang lainnya.
 
“Kurikulum pertama yang harus ditekankan dalam pendidikan umat Muslim yakni ilmu tauhid,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tauhid merupakan tujuan utama penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Perkara tauhid, kata Hakimuddin, perlu dikhawatirkan jika tidak tertanam kokoh pada diri peserta didik.

“Perkara tauhid harus dikhawatirkan pada peserta didik kita, sebelum urusan-urusan yang lainnya. Karena akan menjadi permasalahan yang fatal jika tidak dikokohkan pondasinya,” tambahnya. 

Lebih lanjut, dalam surat Luqman ayat 13 terdapat inspirasi tarbawi ala Luqman Al-Hakim.Pertama, kedekatan seorang orang tua yang berperan sebagai pendidik. Kedekatan pendidik dan peserta didik akan menghilangkan gap atau jarak, sehingga proses transfer ilmu tersampaikan secara utuh.

Kedua, nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, atau yang disebut dengan Uslubul Mauidhoh (mendidik dengan lemah lembut). Melalui metode ini, Luqman dapat menyampaikan tauhid yang terasa berat menjadi sebuah materi ringan.

Ketiga, Uslubul Mulatofah merupakan kelembutan yang penuh kasih sayang. Dalam konteks Luqman, cara memanggil Luqman kepada anaknya dengan “Ya Bunayya” menunjukkan kasih sayang seorang orang tua/pendidik terhadap anaknya.

“Pendidikan yang efektif melalui pendekatan kasih sayang, sebagai gerbang awal untuk melancarkan proses transaksi ilmu dalam pendidikan,” tambah Hakimuddin. 

Keempat, Luqman menjelaskan atas dilarangnya syirik dengan kalimat Inna syirka ladzulmun adhim (Bahwa syirik merupakan sebuah kezaliman yang paling besar). Kalimat tersebut, kata Hakimuddin, menunjukkan adanya sebuah pesan pendidik untuk menyampaikan sesuatu dengan penjelasan yang gamblang atau rasional. Pemahaman merupakan poin fundamental dalam menjalankan suatu syariat.

“Di era saat ini, rasionalisasi terhadap suatu ilmu sangat dibutuhkan, karena banyak orang yang skeptis akan ilmu agama, yang dikatakan sebagai ilmu dogma semu. Maka, dengan penjelasan yang rasional akan lebih diterima oleh peserta didik era sekarangi”, tuturnya.

Dalam sebuah cerita lain, dikatakan bahwa keluarga luqman hakim berlatar belakang kafir. Namun dengan kelemahlembutan dan kesabaran Luqman dapat menghantarkan keluarganya pada jalan yang benar, yakni ajaran agama Islam.

Hakimuddin menutup kajian dengan mengutip tafsir Ibnu katsir pada surat Luqman ayat 13.
“Allah SWT ketika menyebutkan nama Luqman, maka, segala yang dilakukannya menjadi sebuah pedoman bagi kita semua dalam mendidik,” tutupnya. 
 

Posting Komentar

0 Komentar