Ticker

6/recent/ticker-posts

Inovasi BioSil: Tim Mahasiswa UMS Raih Medali Perunggu di Ajang Internasional AISEEF 2026

Tim mahasiswa UMS meraih medali perunggu pada ajang AISEEF 2026. Foto: Ist. 

 

SOLO - Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih medali perunggu pada ajang ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) 2026. 

Kompetisi sains dan inovasi tingkat internasional ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (UNDIP).

AISEEF menjadi wadah bagi inovator muda, peneliti, dan ilmuwan dari berbagai negara untuk mempresentasikan penemuan dan gagasan mereka, baik secara luring maupun daring. Tahun ini, sekitar 700 tim dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan sejumlah negara ASEAN lainnya ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Tim UMS dipimpin Muhammad Rafif Pratama dari Program Studi Bisnis Digital. Ia berkolaborasi dengan lima mahasiswa lintas disiplin, yakni Aura Kalbu Darsono (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Yuanda Eka Saputra (Pendidikan Teknik Informatika), Sheala Aditva Kusuma Mukti (Teknik Sipil), Muhammad Daffa Alhafidl (Teknik Sipil), serta Muhammad Nabil Lazuardi dari Universitas Sebelas Maret (UNS).

Dalam kompetisi tersebut, tim mengusung inovasi bertajuk BioSil, material komposit berkelanjutan yang dirancang sebagai alternatif pengganti kayu untuk sektor furnitur dan konstruksi. Produk Rafif dan tim dikembangkan untuk menekan laju deforestasi sekaligus memanfaatkan limbah lokal yang belum terkelola optimal.

“BioSil merupakan inovasi material berkelanjutan yang dirancang sebagai pengganti kayu. Kami memanfaatkan sinergi tiga bahan baku utama dari limbah lokal Kabupaten Sukoharjo, yakni sekam padi yang kaya silika untuk kekuatan, cangkang telur sebagai pengikat struktur, serta pasir vulkanik sebagai penguat mekanik,” kata Rafif, Sabtu (28/2/2026).

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah organik tersebut diolah menjadi material komposit bernilai guna tinggi lewat proses formulasi dan pengujian laboratorium. Program tersebut bertujuan menciptakan sistem industri yang lebih bertanggung jawab dengan mengurangi beban sampah ke tempat pembuangan akhir sekaligus menekan ketergantungan pada sumber daya alam primer.

Menurut Rafif, gagasan BioSil berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya deforestasi akibat kebutuhan kayu untuk industri furnitur dan konstruksi. Kerusakan hutan, kata dia, berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

“Kami melihat dampak nyata kerusakan hutan, seperti banjir bandang dan longsor. Di sisi lain, di Sukoharjo ada penumpukan limbah pertanian seperti sekam padi yang belum dimanfaatkan. Dari situ kami mencoba menyelesaikan dua masalah sekaligus melalui pendekatan ekonomi sirkular,” ujarnya.

Secara dampak, BioSil diharapkan tak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat. Inovasi ini dinilai sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan, khususnya penguatan industri inovatif dan pola produksi yang bertanggung jawab.

Saat ini, BioSil masih berupa esai, proposal inovasi, dan prototipe produk. Namun, tim telah menyiapkan peta jalan pengembangan. Pada tahap jangka pendek, mereka fokus menyempurnakan prototipe, sementara tahap menengah diarahkan pada produksi skala percontohan.

“Kami terus melakukan pengujian teknis agar kualitas material memenuhi standar. Target berikutnya, inovasi ini akan kami bawa ke ajang internasional Japan Design, Idea and Invention Expo,” kata Rafif.

Dalam proses pengembangan, tim didampingi dosen pembimbing Muhammad Randhy Kurniawan, S.E., MBA. dari Program Studi Bisnis Digital UMS. Persiapan ide hingga presentasi dilakukan selama sekitar dua bulan, dimulai sejak Desember 2025. Pembuatan prototipe dilakukan di laboratorium teknik sipil UMS melalui serangkaian uji coba komposisi bahan.

Ke depan, tim berharap BioSil dapat diproduksi secara massal dan berdampak langsung pada pengurangan deforestasi sekaligus memperkuat ekonomi sirkular berbasis limbah lokal. Mereka juga berencana menjalin kemitraan dan mencari dukungan pendanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi dari skala percontohan menuju industri.

Dengan capaian medali perunggu pada AISEEF 2026 yang terselenggara  secara _hybrid_ di Semarang pada 26-29 Januari 2026, tim optimistis inovasi tersebut mampu bersaing di tingkat internasional. Menjadi kontribusi nyata mahasiswa UMS dalam menghadirkan solusi material ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan.  

Posting Komentar

0 Komentar