SOLO - Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kuliah umum bertajuk “Ramadhan & Spiritual Marketing: Menata Hati, Menguatkan Nilai, Mereguk Berkah”, Sabtu (14/3/2026)
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Lantai 8 FEB UMS tersebut diikuti dosen, mahasiswa, serta civitas akademika Program Magister Manajemen.
Kuliah umum menghadirkan narasumber Muhammad Amir Anshori, S.M., M.M., alumni Magister Manajemen FEB UMS yang saat ini juga menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA).
Dalam pemaparannya, Amir menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh kapital ekonomi, tetapi juga oleh kapital spiritual dan moral. Menurutnya, organisasi yang berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga memperhatikan nilai, etika, serta makna dalam pekerjaan.
"Perusahaan masa depan tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan nilai dan makna kepada masyarakat serta para karyawannya," jelas Amir.
Dalam kehidupan modern, lanjutnya, banyak individu bekerja dengan ritme yang sangat cepat sehingga pekerjaan sering kali terasa seperti "robot" dan menjadi rutinitas tanpa makna.
"Oleh karena itu, penting bagi individu maupun organisasi untuk menemukan nilai spiritual dalam pekerjaan agar aktivitas profesional dapat menjadi bagian dari pengembangan diri dan spiritualitas," tambahnya.
Dalam kuliah umum tersebut, Amir memaparkan empat perspektif utama dalam pengembangan organisasi berbasis nilai, yaitu spiritual marketing, entrepreneurial leadership, Islamic marketing, dan value-based management.
Ia juga menekankan bahwa Ramadan dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran spiritual dalam manajemen kehidupan. Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai kebiasaan positif, seperti menjaga salat tepat waktu, tilawah Al-Qur’an, pengendalian diri, kajian rutin, serta kesadaran terhadap tanggung jawab moral.
Konsep spiritual marketing sendiri menekankan bahwa aktivitas bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan etika. Dalam praktiknya, pelaku usaha dituntut untuk tetap mengedepankan kejujuran dan kepedulian terhadap kebutuhan pelanggan.
Ramadan, menurutnya, dapat menjadi laboratorium spiritual untuk melatih berbagai nilai penting, seperti self control, integritas, empati, serta kesadaran spiritual yang membentuk karakter dalam bekerja.
Selain itu, nilai spiritual juga memiliki peran penting dalam perjalanan karier seseorang. Integrasi antara nilai spiritual dan pekerjaan dapat membantu individu menemukan makna dalam aktivitas profesional yang dijalani.
Dalam konteks organisasi, nilai spiritual juga berkaitan dengan loyalitas karyawan serta keadilan dalam pengelolaan perusahaan, termasuk dalam pengambilan kebijakan bisnis maupun pemenuhan hak-hak pekerja.

0 Komentar