SOLO - Program UMS Insight kembali membahas isu yang dekat dengan kehidupan anak muda, yaitu quarter life crisis, pada Jumat (13/2/2026).
Dalam episode ke-9 ini, Yusuf selaku host berbincang bersama Pakar Psikologi UMS yaitu Septian Wahyu Rahmanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang akan menjelaskan secara sederhana tentang apa itu quarter life crisis dan bagaimana cara menghadapinya.
Menurut Septian, istilah quarter life crisis diperkenalkan oleh Wilner dan Robbins melalui buku mereka tentang tantangan hidup di usia 20-an. Ia menjelaskan bahwa fase ini biasanya dialami oleh mereka yang berusia 20 sampai 29 tahun, bahkan bisa mulai sejak usia 18 tahun, saat seseorang lulus SMA dan mulai menentukan arah hidup.
“Quarter life crisis itu tantangan perkembangan di usia 20-an yang ditandai rasa tidak nyaman, cemas, dan bingung karena tuntutan hidup,” jelasnya, Selasa (3/3/2026).
Di usia ini, seseorang mulai meninggalkan masa remaja dan masuk ke dunia yang lebih nyata. Ada tuntutan untuk bekerja, mandiri secara finansial, menentukan karier, hingga memikirkan hubungan yang lebih serius. Tidak jarang muncul kebingungan dalam mengambil keputusan, merasa tertinggal dari teman sebaya, atau menilai diri sendiri secara negatif.
Septian menyebut beberapa tanda yang sering muncul, seperti kebimbangan, rasa gagal, putus asa, hingga kecemasan tentang masa depan. Banyak anak muda merasa tertekan karena membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial.
“Sekarang tantangannya adalah kemampuan memfilter informasi. Tidak semua yang kita lihat di media sosial harus jadi standar hidup kita,” ujarnya.
Meski terdengar berat, ia menegaskan bahwa quarter life crisis bukan gangguan mental.
“Itu bukan gangguan. Itu fase yang umum dialami. Tantangan perkembangan saja,” katanya.
Namun, jika dibiarkan tanpa dikelola dengan baik, kondisi ini bisa berkembang menjadi kecemasan berlebihan bahkan depresi.
Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari apa yang sebenarnya dirasakan. Seseorang perlu jujur pada dirinya sendiri. Apa yang membuat cemas? Apa yang membuat merasa gagal? Mengapa hal itu begitu mengganggu? Dengan mengenali isi pikiran dan perasaan, seseorang bisa mulai memahami sumber masalahnya.
Septian juga menyarankan untuk berdialog dengan diri sendiri atau melakukan refleksi.
“Kenapa saya memikirkan ini? Dampaknya ke saya apa?” katanya.
Dengan proses ini, individu bisa lebih terkoneksi dengan dirinya, mengenali kelebihan dan kelemahan, serta memahami tujuan hidupnya.
Jika merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, mencari bantuan profesional bukanlah hal yang salah. Konselor, mentor, atau psikolog bisa membantu melihat masalah dengan lebih jernih. Di UMS sendiri tersedia layanan konseling gratis bagi mahasiswa yang membutuhkan pendampingan.
Lebih jauh, Septian menekankan pentingnya kesiapan psikologis. Usia, menurutnya, hanyalah angka. Yang lebih penting adalah kematangan mental.
“Usia itu hanya angka. Yang menentukan adalah kematangan psikologis,” jelasnya.
Seseorang yang matang secara psikologis akan lebih siap menghadapi tekanan dan tantangan hidup.
Ia juga mengingatkan bahwa kematangan tidak terbentuk secara instan di usia 20-an. Prosesnya panjang, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa awal. Peran keluarga, lingkungan, pergaulan, dan pendidikan sangat berpengaruh dalam membentuk kesiapan mental seseorang.
Bagi mereka yang belum memasuki usia 20-an, tidak perlu takut berlebihan. Quarter life crisis bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi dihadapi.
“Itu tantangan yang unik di usia itu, jadi dihadapi saja,” ujar Septian.
Dengan memiliki tujuan hidup yang jelas dan komitmen terhadap peran yang ingin dijalani, rasa bingung dan cemas bisa lebih terkendali.
Bagi orang-orang di sekitar yang melihat temannya sedang mengalami fase ini, pendekatan yang lembut dan suportif sangat dibutuhkan. Tidak perlu memaksa untuk konseling, tetapi cukup hadir dan menunjukkan bahwa kita siap mendengarkan.
Melalui diskusi ini, UMS Insight mengajak generasi muda untuk memahami bahwa quarter life crisis adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Fase ini bukan tanda kegagalan, melainkan proses belajar untuk mengenal diri, menentukan arah, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

0 Komentar