SOLO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Sinergi Inovasi dan Layanan:
Pengembangan Laboratorium PG-PAUD yang Humanis, Modern, dan Islami” pada 18
Juni 2025. Acara yang berlangsung secara hibrida (luring di Lantai 5 Gedung
Pascasarjana Kampus 2 UMS dan daring), dihadiri oleh dosen, mahasiswa, serta
perwakilan asosiasi PG-PAUD dari seluruh Indonesia.
Webinar menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Sri
Slamet, M.Hum., M.Pd. dari UMS dan Associate Professor Madya Dr. Azizah Binti
Zain dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia.
Ketua Asosiasi PG-PAUD, Dr. Tasrif Akib, S.Pd., M.Pd., secara
resmi membuka kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menekankan vitalnya peran
laboratorium sebagai sarana transformatif dalam pendidikan anak usia dini di
perguruan tinggi.
Dr. Azizah Binti Zain, dalam paparannya, berbagi
pengalaman UPSI dalam mengelola makmal pendidikan awal kanak-kanak. Ia
memperkenalkan lima jenis laboratorium unggulan di UPSI, meliputi Makmal
Inkubator (TASKA & TADIKA), Simulasi, Sains & Matematik, Pergerakan
Kreatif, dan EduToys.
Dr. Azizah juga menegaskan pentingnya menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif dan membangun kolaborasi erat antara dunia
akademik dengan masyarakat.
"Makmal bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi
tempat untuk membina keyakinan dan kreativitas guru masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Sri Slamet menyoroti urgensi
revitalisasi laboratorium PG-PAUD di UMS. Dia mengidentifikasi beberapa
tantangan yang dihadapi saat ini, seperti tata ruang yang kurang fungsional,
peralatan yang tidak terdokumentasi, minimnya pelatihan bagi asisten laboratorium,
dan kurangnya informasi mengenai keberadaan laboratorium di kalangan masyarakat
sekitar.
Untuk mengatasi hal ini, Dr. Sri Slamet mengusulkan
strategi revitalisasi yang mencakup penataan ulang ruang berbasis zona
perkembangan anak, pelatihan berkelanjutan untuk asisten, promosi digital,
serta pelibatan mahasiswa sebagai agen perubahan.
"Kita butuh ruang praktik nyata bagi mahasiswa,
inovasi riset bagi dosen, dan layanan PAUD kampus yang dapat diakses masyarakat
secara profesional,” kata Sri Slamet.
Dirinya mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi.
"Inovasi pendidikan dimulai dari keberanian menghidupkan ruang yang selama
ini diabaikan. Mari jadikan laboratorium ini sebagai pusat inovasi dan
komunitas bersama,” ucapnya.
Beberapa makalah juga turut dipresentasikan dalam webinar
ini. Erwin Herlian, S.T., M.Ars, memaparkan gagasan inovatifnya dalam makalah
berjudul “Reimagining Lab Environments for Early Childhood Education:
Integrating Child-Friendly Design and Multifunctional Spaces,” yang mengupas
penciptaan lingkungan laboratorium PAUD yang modern, fleksibel, dan adaptif
terhadap kebutuhan perkembangan anak.
Zulfa Irawati, MM, membahas peran company profile sebagai
alat edukasi dan media promosi lembaga dalam makalahnya. Dr. Junita Dwi
Whardhani, M.Ed, turut menyoroti “Optimalisasi Laboratorium PG PAUD untuk
Layanan Berkualitas”.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, dengan mahasiswa
mengajukan pertanyaan relevan mengenai penempatan laboratorium di lantai dasar
demi aksesibilitas anak-anak, serta pentingnya indikator mutu berbasis
instrumen IQA.

0 Komentar