SOLO - Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) internasional pada 3-7 Februari 2026. Melalui Kelompok Kapulaga, sebanyak 15 mahasiswa angkatan 2023 mendalami strategi resiliensi Kota Bangkok, Thailand, sebagai salah satu destinasi wisata dengan kunjungan mancanegara tertinggi di dunia.
Kegiatan ini didampingi oleh dosen pembimbing lapangan, Ir. Dyah Widi Astuti, S.T., M.Sc., dengan fokus kajian pada bagaimana Bangkok mampu mempertahankan eksistensi sebagai kota wisata global, sekaligus terus berkembang mengikuti tuntutan pelaku industri pariwisata.
“Bangkok menawarkan kombinasi unik antara warisan budaya dan religi, modernitas metropolitan, serta kehidupan jalanan yang autentik. Dalam konteks Warisan Budaya dan Sejarah (Cultural-Heritage Attractions), mahasiswa mengunjungi sejumlah kawasan ikonik seperti Grand Palace, Wat Arun, Jim Thompson House, dan Talad Noi,” ungkapnya, Jumat (27/2/2026).
Dosen Arsitektur itu menyampaikan Grand Palace yang dibangun pada tahun 1782 pada masa Raja Rama I merupakan kompleks istana kerajaan yang menjadi pusat pemerintahan. Grand Palace juga merupakan kediaman resmi Raja Thailand hingga pertengahan abad ke-20. Kompleks ini menampilkan arsitektur khas Thailand dengan atap bertingkat, ornamen emas, mozaik kaca, serta keberadaan Wat Phra Kaew sebagai kuil suci.
Sementara itu, Wat Arun atau Temple of Dawn yang berada di tepi Sungai Chao Phraya dikenal melalui prang (menara) utamanya setinggi sekitar 70-80 meter yang dihiasi pecahan porselen dan keramik Tiongkok. Kedua bangunan ini tetap berfungsi sebagai ruang religius sekaligus destinasi wisata utama, menunjukkan bagaimana warisan arsitektur kerajaan dan keagamaan tetap lestari di tengah perkembangan kota.
Di sisi lain, Jim Thompson House menghadirkan kompleks rumah tradisional kayu Thailand yang dirakit ulang pada 1959 oleh Jim Thompson, pengusaha yang berperan dalam kebangkitan industri sutra Thailand. Kini, museum tersebut menjadi destinasi wisata budaya yang mempertahankan keaslian struktur panggung dan detail arsitektur tradisional di tengah modernisasi kota.
Talad Noi, kawasan tua di tepi Sungai Chao Phraya, memperlihatkan morfologi kota lama dengan ruko kayu dan bangunan Sino-Thai. Revitalisasi kawasan ini berkembang menjadi kafe, galeri seni, dan ruang kreatif tanpa menghilangkan karakter historisnya, sehingga berfungsi sebagai cultural anchor kota.
Dalam konteks Perdagangan dan Wisata Konsumtif (Commercial & Lifestyle Destinations), mahasiswa mengamati transformasi ruang melalui kunjungan ke Asiatique The Riverfront, Yaowarat, Chatuchak Weekend Market, dan Dusit Central Park.
Sementara Asiatique The Riverfront merupakan revitalisasi bekas pelabuhan East Asiatic Company yang menjadi open-air lifestyle mall dan night market. Struktur gudang kolonial-industrial tetap dipertahankan, namun difungsikan ulang sebagai ruang ritel dan hiburan modern.
Destinasi lain Yaowarat atau Chinatown Bangkok telah berkembang sejak akhir abad ke-18 sebagai pusat komunitas Tionghoa dengan dominasi ruko Sino-Portuguese dan Chinese vernacular. Hingga kini, kawasan ini tetap menjadi pusat perdagangan dan kuliner yang dinamis.
Chatuchak Weekend Market yang dikenal sebagai salah satu pasar akhir pekan terbesar di dunia dengan lebih dari 15.000 kios, menjadi simpul interaksi ekonomi lokal dan wisatawan global. Berbeda dengan itu, Dusit Central Park hadir sebagai kawasan mixed-use terpadu yang mengintegrasikan hunian, hotel, perkantoran, dan pusat belanja, sekaligus menyediakan ruang terbuka hijau publik sebagai respons terhadap kepadatan kota.
Pada aspek Ruang Terbuka Hijau dan Urban Regeneration, mahasiswa mengunjungi Benjakitti Forest Park yang merepresentasikan strategi urban resilience Bangkok. Taman ini merupakan transformasi lahan bekas pabrik tembakau menjadi ecological park dengan danau, wetland, jalur pejalan kaki, serta skywalk yang mendukung retensi air dan mitigasi banjir.
Menanggapi kepadatan wisatawan di kawasan komersial seperti Asiatique dan Yaowarat, Mr. Patrick Donbeck dari Chulalongkorn University menyatakan bahwa pariwisata telah menjadi bagian integral dari struktur ekonomi dan perkembangan urban Bangkok.
Menurutnya, kota ini unik karena mampu mengintegrasikan warisan budaya dan modernitas dalam satu sistem, meskipun tetap menghadapi tantangan kepadatan dan ketergantungan ekonomi pada sektor wisata.
Pandangan serupa disampaikan oleh perwakilan Architect 49, Nopanat Kraiwanit dalam wawancara terkait perancangan Dusit Central Park. “Proyek tersebut diposisikan tidak sekadar sebagai kawasan retail, tetapi sebagai alternatif destinasi wisata urban yang menawarkan pengalaman berbeda di tengah dominasi wisata berbasis sejarah dan budaya,” kata dia.
Berdasarkan laporan KKL Arsitektur UMS 2026, Bangkok dinilai berhasil mempertahankan eksistensinya sebagai destinasi global melalui strategi integrasi antara pelestarian warisan budaya sebagai jangkar budaya (cultural anchor) dan inovasi modernisasi yang kontekstual melalui revitalisasi kawasan.
Keberhasilan tersebut terlihat dari hidupnya kembali kawasan bersejarah seperti Talad Noi dan Asiatique tanpa kehilangan karakter aslinya, serta pengembangan ruang publik berorientasi resiliensi seperti Benjakitti Forest Park. “Secara arsitektural dan urban, Bangkok menunjukkan keseimbangan antara ruang religi-sejarah yang sakral, ruang komersial-kreatif yang dinamis, dan ruang terbuka hijau yang berkelanjutan dalam menjawab tantangan kepadatan serta tuntutan pariwisata modern,”tutup Dyah Widi Astuti.

0 Komentar