
Mahasiswi KKN UMS menggelar kegiatan pengenalan budaya Nusantara bertajuk “Mengenal Rumah Adat Indonesia” di Sanggar Bimbingan (SB) Pelita Ilmu, Wangsa Melawati, Kuala Lumpur, Malaysia. Foto : Ist.
MALAYSIA - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kegiatan pengenalan budaya Nusantara bertajuk “Mengenal Rumah Adat Indonesia” di Sanggar Bimbingan (SB) Pelita Ilmu, Wangsa Melawati, Kuala Lumpur, Kamis, (29/1/2026).
Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat identitas budaya anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Pengenalan rumah adat Indonesia dilakukan melalui kegiatan mewarnai berbagai gambar rumah adat dari sejumlah daerah di Indonesia. Anak-anak diperkenalkan dengan beragam rumah adat seperti Rumah Honai dari Papua, Rumah Tongkonan dari Sulawesi Selatan, serta Rumah Gadang dari Sumatera Barat.
Metode ini dipilih agar anak dapat mengenal kekayaan budaya Indonesia sejak dini dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik usia sekolah dasar.
Deswita Winna Irshandy, mahasiswa KKN Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS menjelaskan, pentingnya pengenalan budaya Indonesia untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia.
“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menjaga kultural anak-anak Indonesia yang tinggal di Malaysia agar tetap memiliki keterikatan dengan akar budayanya,” ujar, saat Deswita diwawancarai, Minggu, (8/2/2026).
Menurutnya, anak-anak perlu memahami bahwa identitas Indonesia sangat kaya dan unik, meskipun mereka tumbuh dan belajar di luar negeri. Ia menjelaskan bahwa metode mewarnai dipilih karena dinilai lebih efektif dibandingkan ceramah satu arah.
“Untuk anak usia sekolah dasar, metode mewarnai jauh lebih efektif karena dapat menstimulasi kreativitas anak dalam pemilihan warna, melatih motorik halus, serta meningkatkan fokus anak,” jelas Deswita.
Kegiatan ini dibagi ke dalam dua sesi, yakni kelas pagi yang diikuti oleh 33 anak dan kelas petang yang diikuti oleh 7 anak. Pembagian tersebut disesuaikan dengan jadwal belajar anak-anak di SB Pelita Ilmu. Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dengan suasana yang meriah dan penuh energi positif.
“Alhamdulillah, respon anak-anak baik di kelas pagi maupun petang sangat antusias. Mereka terlihat senang saat mewarnai rumah adat, aktif bertanya, dan bangga menunjukkan hasil karya mereka,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa suasana kelas menjadi lebih hidup, interaktif, dan penuh semangat. Deswita menuturkan bahwa meskipun jumlah anak di kelas petang lebih sedikit sehingga suasananya tidak seramai kelas pagi, kegiatan tetap berjalan dengan baik.
“Kelas petang memang lebih tenang dan lebih mudah dikondisikan, tetapi antusiasme anak-anak tetap terlihat,” katanya.
Pada sesi akhir kegiatan, anak-anak diajak menyebutkan bersama-sama berbagai macam rumah adat Indonesia melalui video yang ditayangkan menggunakan proyektor. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan keberhasilan proses pembelajaran.
Melalui pengenalan rumah adat seperti Honai, Tongkonan, dan Rumah Gadang, mahasiswa KKN UMS berharap dapat menanamkan rasa cinta tanah air, kebanggaan terhadap budaya Indonesia, serta sikap saling menghargai keberagaman sejak dini.
“Nilai yang ingin kami tanamkan adalah semangat Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” tambah Deswita.
Ia menilai kegiatan ini cukup membantu dalam memperkuat identitas budaya anak-anak Indonesia di lingkungan SB Pelita Ilmu.
“Dengan mengenal rumah adat, anak-anak mulai memahami bahwa Indonesia kaya akan budaya dan tradisi. Hal ini menumbuhkan rasa bangga dan keterikatan dengan Indonesia, meskipun mereka tidak tinggal langsung di tanah air,” jelasnya.
Ke depan, Deswita berharap kegiatan pengenalan budaya Nusantara yang diinisiasi mahasiswa KKN UMS ini dapat terus berlanjut dan dikembangkan.
“Tidak hanya melalui kegiatan mewarnai, tetapi juga melalui cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, dan kegiatan budaya lainnya. Harapan kami, anak-anak SB Pelita Ilmu tetap mencintai dan bangga dengan budaya Indonesia,” pungkasnya.
0 Komentar