SOLO - Universitas
Muhammadiyah Surakarta (UMS) akan mengukuhkan dua Guru Besar baru, Kamis (19/6/2025).
Mereka adalah Prof. Dr. Eny Purwandari, S.Psi dan Prof. Ir. Mochamad Solikin,
M.T., Ph.D.
Prof. Dr. Eny Purwandari,
S.Psi akan dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-60 Bidang Psikologi Kesehatan
Mental. Sedangkan Prof. Ir. Mochamad Solikin, M.T., Ph.D., sebagai Guru Besar
ke-61 Bidang Teknologi Bahan Konstruksi.
Dalam pemaparannya, Eny
menjelaskan keilmuannya berfokus pada psikologi klinis yang menurutnya dapat
diterapkan di berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, sekolah, tempat
kerja, hingga komunitas. Sejak studi di jenjang S1 hingga S3, riset-riset yang
ia gandrungi berkisar pada isu adiksi, bullying, rehabilitasi, dan kampanye
anti-narkoba berbasis pendekatan komunitas.
Dosen Psikologi UMS itu
melihat perlunya literasi kesehatan mental sebagai bagian dari adaptasi
terhadap teknologi. Ia menyoroti fenomena anak kecil yang terlalu dini terpapar
gadget tanpa pengawasan.
“Sekarang handphone jadi
"senjata" agar anak tenang. Padahal dampaknya bisa serius bagi
perkembangan mental mereka,” kata Eny Purwandari, Rabu (18/6/2025).
Menyoroti tantangan
kesehatan mental di era digital, khususnya dampak penggunaan gawai pada anak,
UMS pun kini mengembangkan layanan konseling daring melalui Student Mental
Health Support and Wellbeing (SMGWS). Menurutnya ini menjadi langkah strategis
menyambut tantangan era tele-mental health.
Sementara itu, Prof. Ir.
Mochamad Solikin, M.T., Ph.D memaparkan penelitiannya yang berfokus pada
pengembangan beton ramah lingkungan. Ia meneliti penggunaan fly ash, limbah
pembakaran batu bara dari PLTU sebagai pengganti sebagian semen dalam pembuatan
beton.
"Dalam skala
laboratorium sudah saya buktikan bahwa kita bisa mengganti setengah dari semen
itu dengan abu batu bara," jelas Solikin.
Menurutnya, penggunaan fly
ash dapat mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan daya tahan beton
terhadap lingkungan ekstrem. Beberapa inovasi yang telah ia hasilkan di
antaranya adalah genteng beton tipis, pelat bangunan ringan, dan struktur
berongga berbasis beton self-compacting.
Dosen Teknik Sipil UMS itu
juga melihat adanya peluang di masa mendatang untuk penggabungan teknologi
digital ke dalam konstruksi. Salah satunya dengan menanamkan sensor di material
seperti beton untuk mendeteksi beban kendaraan secara real-time.
"Misalnya material
itu diterapkan dalam beton, lalu ditanamkan sensor. Maka kendaraan yang
melintas bisa langsung terdeteksi berat dan kecepatannya, karena datanya
otomatis terkirim," imbuh dia. Inovasi semacam ini dinilai dapat
meningkatkan efisiensi dan keamanan infrastruktur.

0 Komentar