SOLO - Sebanyak 17 mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) secara resmi diserahkan kepada Majelis Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bayat untuk mengikuti Program Language and Cultural Immersion. Seremoni penyerahan berlangsung di Aula SMP Muhammadiyah 7 Bayat, Klaten, Selasa (26/8/2025).
Program terselenggara atas kerja sama Lembaga Pengembangan Mata Kuliah dan Layanan Bahasa (LPMB) UMS, Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS, serta Dikdasmen dan PNF PCM Bayat. Selama empat hari, 26-29 Agustus 2025, para mahasiswa asing akan tinggal bersama masyarakat Bayat untuk mendalami bahasa sekaligus mengenal budaya lokal.
Penyerahan mahasiswa dilakukan oleh Kepala LPMB UMS Dr. Aryati Prasetyarini, M.Pd., bersama perwakilan PCM Bayat H. Sumardi, serta Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah Muhammadiyah (K3SM) Bayat Haryono, S.Pd. selaku koordinator kegiatan.
Para peserta merupakan penerima beasiswa International Priority Scholarship (IPS) UMS dan berasal dari berbagai negara, antara lain Uganda, Mesir, Suriah, Somalia, Mozambik, Ethiopia, Sudan, Pakistan, Lebanon, hingga Palestina. Mereka akan tinggal di rumah warga, belajar bahasa melalui percakapan sehari-hari, sekaligus mengikuti ragam kegiatan kebudayaan.
Beberapa aktivitas budaya yang telah dijadwalkan antara lain membatik, membuat blangkon, bermain angklung, hingga menabuh gamelan Jawa. Mahasiswa juga akan berinteraksi langsung dengan siswa sekolah Muhammadiyah di Bayat serta terlibat dalam kegiatan sosial dan pendidikan.
Dalam sambutannya, Aryati Prasetyarini mengingatkan pentingnya memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
“Pelajarilah budaya Indonesia dengan baik, gunakan waktu selama di masyarakat untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sebanyak mungkin. Hormatilah budaya lokal, termasuk kebiasaan untuk bangun pagi, sebagai bagian dari pembelajaran budaya yang utuh,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Dalam sambutannya, Haryono mengingatkan para mahasiswa untuk bersungguh-sungguh belajar bahasa Indonesia selama tinggal di Bayat. Ia menuturkan, komunikasi sehari-hari bersama keluarga angkat maupun saat mengikuti kegiatan budaya akan menjadi media terbaik untuk melatih kemampuan berbahasa sekaligus memahami kultur lokal.
“Harapannya, semoga kalian bisa tahu bagaimana budaya dan apa saja yang ada di Bayat, Klaten ini. Selama di sini empat hari, penting sekali untuk kita bertukar pengalaman dan ilmu,” kata Haryono.
Salah satu peserta, Nourelhuda Elmanaya (25), asal Palestina mengaku antusias mengikuti program ini.
“Kami ke sini bukan hanya untuk belajar bahasa Indonesia, tapi juga untuk berjuang, berpengabdian, dan belajar budaya. Saya penasaran sekali dengan batik Jawa, karena belum pernah punya batik sebelumnya,” ujarnya yang tengah menempuh studi S3 Manajemen di UMS.
Nourelhuda berharap melalui program ini dirinya dan teman-temannya dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat Bayat. Menurutnya, salah satu bentuk kontribusi yang ingin diberikan adalah dengan membantu siswa di sekolah Muhammadiyah, yang dinilainya memiliki semangat luar biasa saat menyambut kehadiran para peserta program.
0 comments:
Posting Komentar