
SOLO – Pendidikan sejatinya bertujuan untuk memanusiakan manusia dan memuliakan kehidupan. Nilai-nilai tersebut ditekankan oleh Ketua Tim Program Pendidikan Untuk Semua (PPUS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., yang juga sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saat memberikan materi kepada para guru dan siswa sekolah menengah di Banga, Filipina.
Menurutnya, proses pendidikan harus dikemas secara holistik dan komprehensif, yakni menyatukan kecakapan hidup, keterampilan bermasyarakat, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga tumbuh rasa ingin tahu yang membangun semangat belajar secara menyenangkan.
“Pendidikan tanpa nilai, ibarat pohon tanpa buah, atau patung tanpa fungsi. Adanya seperti tiada,” kata Harun, Minggu (24/8/2025).
Ia menjelaskan, teknologi informasi (IT) di tingkat sekolah menengah memiliki peran penting. IT bukan hanya diajarkan sebagai pengetahuan teknis, tetapi juga dapat menjadi metode pembelajaran, sarana pengembangan diri, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, tambahnya, literasi IT tidak cukup berhenti pada keterampilan mengoperasikan perangkat, melainkan harus membentuk kesadaran kritis, kemampuan reflektif, kolaboratif, serta daya cipta.
Lebih lanjut, Harun menekankan pentingnya pendekatan deep learning dalam literasi IT. Deep learning, katanya, tidak hanya dikenal sebagai istilah di dunia kecerdasan buatan, tetapi juga paradigma pendidikan yang menekankan pembelajaran bermakna, mendalam, dan kontekstual.
Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan juga kreator yang mampu menganalisis, memecahkan masalah, sekaligus mengembangkan solusi bermanfaat.
Namun, kecanggihan teknologi tetap harus ditempatkan dalam bingkai nilai humanis. Teknologi, menurutnya, harus diposisikan sebagai sarana untuk memperkuat solidaritas, memperluas akses pendidikan yang adil, serta menumbuhkan empati sosial.
“Literasi IT harus melahirkan generasi yang bukan hanya cakap secara teknis, tetapi juga bijak, berempati, dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Dalam acara yang dilaksanakan pada Rabu (20/8) itu, Harun menegaskan bahwa pendidikan literasi IT yang berorientasi pada deep learning dan humanisme merupakan kebutuhan mendesak.
“Dengan cara ini, generasi muda diharapkan tidak hanya pintar menguasai teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk memuliakan kehidupan dan memartabatkan peradaban,” pungkasnya.
0 comments:
Posting Komentar